Geologi
Wednesday, 16 January 2008
GEOFISIKA
 
Seismik
 

Kegempaan di G. Slamet dipantau dengan menggunakan seismograf (model MEQ-800) satu komponen, yang dioperasikan secara sistem radio telemetri (RTS). Sejak 17 Mei 1993, seismometer (sensor gempa), ditempatkan di sekitar G. Cilik (1600 m) di lereng utara G. Slamet, sedangkan rekordernya (perekam gempa) dipasang di Pos PGA G. Slamet. Sebelumnya seismometer ditempatkan di lereng utara G. Slamet pada ketinggian lk. 3000 m.

 

Jenis gempa yang terekam di G. Slamet terdiri dari gempa vulkanik A, vulkanik B, Tektonik dan gempa hembusan. Gempa hembusan merupakan gempa yang mendominasi rekaman seismograf di G. Slamet.

 
Geomagnet
 

Harga medan magnit regional untuk daerah G. Slamet dan sekitarnya, yang merupakan bagian dari peta magnit dunia adalah sebesar 45.000 nT (nano Telsa). Adanya penyimpangan-penyimpangan (anomali) yang terjadi, sangat berhubungan erat dengan kondisi geologi setempat.

 

Penyelidikan magnit di G. Slamet menggunakan dua buah magnetometer proton dari jenis SCINTREX tipe MP-3 dengan ketelitian 0,1 nT yang masing-masing dilengkapi dengan sebuah sensor magnit. Pengambilan data dilakukan secara random. Interpretasi penyelidikan dilakukan secara kualitatif, yang berdasarkan pada pola penyebaran anomalinya dan pembuatan model 2 dimensi dari lintasan yang ada dalam peta Isomagnetik.

 

Berdasarkan pola penyebaran anomali magnetik, maka daerah G. Slamet dan sekitarnya dibagi menjadi 3 zona anomali. Anomali tinggi (diatas 45.000 nT), menempati daerah ujung timur, utara dan selatan. Anomali sedang (44.000 - 45.000 nT) berada di daerah barat, tengah melingkar G. Slamet, sebagian baratlaut, timur dengan membentuk kelurusan relatif utara - selatan. Sedangkan anomali rendah (42.000 - 44.000 nT) terdapat di daerah sekitar tubuh dan puncak G. Slamet sekarang.

 
Gaya Berat
 

Pola anomali Bourguer di G. Slamet dan sekitarnya, secara umum memiliki kecenderungan arah baratlaut - tenggara. Harga anomali besar terlihat di bagian baratdaya dan mengecil ke arah timurlaut. Pola anomali sisa orde 2 juga memperlihatkan kecenderungan arah baratlaut - tenggara, namun memiliki anomali yang lebih menonjol di bagian timurlaut.

 

G. Slamet sendiri masuk dalam daerah anomali rendah, namun belum bisa melihat pola anomali di sekitar puncak, karena belum ada data gaya berat untuk bagian puncak. Pendugaan keberadaan struktur geologi di G. Slamet dan sekiarnya berdasarkan data gaya berat tersebut, secara umum berarah baratlaut - tenggara.

 
GEOMORFOLOGI
 

Geomorfologi G. Slamet dapat dibedakan menjadi dua bentuk bentang alam atau morfologi yang sangat berbeda yaitu, dibagian barat memperlihatkan bentuk morfologi yang tidak beraturan dengan relief kasar, sedangkan di bagian timur merupakan morfologi kerucut vulkanik dengan bentuk lereng yang teratur. Pada kaki bagian timur G. Slamet, sedikitnya dijumpai 20 kerucut sider.

 

Pola aliran sungai umumnya mengikuti bentuk morfologi ini, di sebelah barat yang mempunyai relief kasar dan morfologinya tidak teratur, membentuk pola aliran sungai dendritk. Pada morfologi kerucut gunungapi membentuk pola aliran sungai radial dengan memusat ke arah puncak.

 

Berdasarkan bentuk bentang alam, dan tingkat erosinya, daerah G. Slamet dibagi menjadi beberapa satuan morfologi, yaitu :

 

1.     Satuan morfologi perbukitan tidak teratur, menempati bagian barat dan baratdaya lembar peta, terdiri dari punggungan yang tidak teratur dan beberapa puncak yang meruncing. Satuan morfologi ini dibagi menjadi dua sub satuan morfologi, yaitu sub satuan morfologi relief kasar dan relief halus.

 

1.1. Sub satuan morfologi berelief kasar dicirikan oleh lereng yang terjal dan lembah yang dalam disertai dengan puncak meruncing. Sub satuan ini menempati bagian baratlaut dan selatan lembar peta, puncak-puncaknya antara lain G. Cowet, G. Pendiara, G, Batur, G. Sembung dan puncak lainnya. Satuan ini umumnya disusun oleh lava yang berkomposisi andesit, sebagian ditutupi oleh endapan tefra dari G. Slamet tua dan G. Slamet muda.

 

1.2. Sub satuan morfologi berelief halus, menempati bagian tengah dari satuan morfologi perbukitan tidak teratur, terdiri dari punggungan memanjang dengan puncak membulat serta lembah-lembah melebar. Satuan ini disusun oleh endapan tefra dari G. Slamet, pada sayatan sungai dijumpai singkapan lava dengan komposisi andesit.

 

2.     Satuan morfologi kerucut gunungapi, menempati bagian timur lembar peta dan merupakan tubuh G. Slamet itu sendiri. Satuan morfologi ini dipisahkan menjadi empat sub satuan morfologi, yaitu sub satuan morfologi puncak, tubuh, kaki dan kerucut sinder.

 

2.1. Sub satuan morfologi puncak menempati daerah puncak G. Slamet mulai dari ketinggian 2950 m dpl, terdiri dari lava dan endapan piroklastik. Pada bagian puncak terdapat empat buah dinding kawah, dua diantaranya merupakan kawah yang masih aktif saat ini, yaitu kawah III dan IV.

 

2.2. Sub satuan morfologi tubuh menempati lereng sebelah utara, selatan, timur dan sedikit di sebelah barat dengan lereng yang lebih landai. Satuan ini tersusun dari lava dan piroklastik, semakin ke arah puncak piroklastiknya semakin tebal, sedangkan pada torehan sungai dijumpai lava. Di bagian timur satuan ini dijumpai kerucut - kerucut sinder yang jumlanya lebih dari 20 buah.

 

2.3. Sub satuan morfologi kaki tersebar mengelilingi G. Slamet, terutama daerah selatan dan sedikit utara, mempunyai lereng landai hampir datar dengan relief halus, merupakan daerah persawahan dan perkebunan tebu. Daerah ini umumnya ditutupi oleh bahan rombakan dari G. Slamet, berupa lahar di bagian selatan dan tenggara, serta lava basalt di bagian utara.

 

2.4. Sub satuan morfologi kerucut sinder, terdapat di lereng timur kerucut G. Slamet. Kerucut sinder ini tersebar dalam radius 5 km, merupakan bukit-bukit kecil berbentuk bukt terpancung yang dibangun oleh bahan - bahan lepas berupa skorea dengan ukuran bom dan lapili. Bukit - bukit ini muncul secara berkelompok atau sendiri, berbentuk bulat atau lonjong, dengan bekas lubang letusan berbentuk lungkaran atau tapal kuda.

 

3.     Satuan morfologi dataran, menempati daerah sebelah utara bagian barat dan sebelah selatan lembar peta. Daerah ini merupakan hamparan dataran yang umumnya dijadikan daerah pemukiman dan dan pertanian yang subur. Satuan ini disusun olehj endapan hasil erosi dari G. Slamet tua maupun muda dan batuan sedimen di sekitarnya.

 
Stratigrafi
 

Endapan batuan hasil erupsi G. Slamet dari tua sampai muda semuanya berumur Kuarter, menutupi batuan sedimen berumur Tersier. Sebaran hasil kegiatan G. Slamet meliputi 5 Kabupaten dengan luas lebih kurang 1500 km2, yang terdiri dari endapan piroklastik, lava, lahar, awan panas dan endapan permukaan berupa aluvial dan fluvial.

 

Urutan stratigrafi G. Slamet dari tua ke muda selengkapnya adalah sebagai berikut : lava G. Cendana, lava G. Sembung, endapan aliran piroklastik batuapung Cikepuh, lahar kali Logawa, lava G. Mingkrik, lava Kalipagu, lava G. Slamet 1, endapan jatuhan pirolastik kerucut Angrun, lahar Bumijawa, endapan guguran Guci, endapan jatuhan piroklastik G. Slamet 1, lava G. Slamet 2, endapan aliran piroklastik G. Slamet 1, endapan jatuhan piroklastik kerucut Lompong, lahar kali Banjaran, endapan fluviatil Purbalingga, lava G. Slamet 3, lava Lebaksiu, aliran piroklastik G. Slamet 2, lahar kali Gung, endapan jatuhan prioklastik G. Slamet tua, endapan jatuhan piroklastik G. Slamet 3 dan kubah lava.

 
Struktur Geologi
 

Struktur geologi yang berkembang di daerah G. Slamet dan sekitarnya, umumnya berupa sesar normal yang banyak dijumpai pada kelompok Slamet Tua. Jejak-jejak sesar di lapangan dijumpai berupa breksiasi, gores garis sesar, zona hancuran, kelurusan bukit dan dan lembah, gawir yang lurus dan terjal serta kontak tajam antara satuan batuan.

 

Berdasarkan kriteria tersebut di atas, maka struktur geologi di daerah G. Slamet dapat dibedakan menjadi 11 buah struktur sesar, yaitu sesar normal Jegjeg, sesar normal Pengasinan, sesar normal Mengger, graben Guci, sesar normal Sijampang, sesar normal Kalibuntu, sesar normal Gunungrataamba, sesar normal Karanggondang, sesar normal Kubangan, sesar normal Kalipagu dan sesar normal Ganting.

 
(Sumber : Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)
 
 
Kawasan Slamet

Wednesday, 16 January 2008

article thumbnail Kawasan Slamet terletak di propinsi Jawa Tengah, Pulau Jawa, Indonesia. Di pulau jawa sendiri dari sekitar tiga juta hektar hutan yang masih tersisa, diperkirakan hanya 1,5 juta yang masih...
>> View More

Example News Item 1

Tuesday, 06 July 2004

article thumbnailLorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, sed diam nonumy eirmod tempor invidunt ut labore et dolore magna aliquyam erat, sed diam voluptua. At vero eos et accusam et justo duo...
>> View More

Konservasi untuk rakyat

Wednesday, 23 January 2008

article thumbnai  Konservasi untuk rakyat di kawasan Slamet : Mulai dari apa yang ada, bukan dari apa yang seharusnya ada   Tentang Kawasan Slamet Pada awal abad 20, hampir seluruh kawasan Slamet...
>> View More

Nota Kesepakatan

Friday, 21 November 2008

article thumbnai NOTA KESEPAKATAN : Awali kesamaan persepsi  Oleh : Yudi dan Esti Tanggal 14 Juni yang lalu, sebuah pertemuan bersejarah bagi para Pesanggem di gelar di desa Windujaya, pertemuan ini...
>> View More

  • contoh1
  • contoh2
  • contoh3
Berita hari ke II

Wednesday, 26 November 2008

article image Petani Hutan Sejawa ; Biarkan Rakyat Mengelola Hutan !!   Melung,26/11/2008 - Perdebatan semakin memanas pada hari kedua workshop petani hutan se Jawa di Desa Melung, Banyumas 25 –...
>> View More

Example News Item 1

Tuesday, 06 July 2004

article thumbnailLorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, sed diam nonumy eirmod tempor invidunt ut labore et dolore magna aliquyam erat, sed diam voluptua. At vero eos et accusam et justo duo...
>> View More

Konservasi untuk rakyat

Wednesday, 23 January 2008

article thumbnai  Konservasi untuk rakyat di kawasan Slamet : Mulai dari apa yang ada, bukan dari apa yang seharusnya ada   Tentang Kawasan Slamet Pada awal abad 20, hampir seluruh kawasan Slamet...
>> View More

Ilegal Logging

Thursday, 24 January 2008

article thumbnaiMemahami “Illegal Logging”Sebuah catatan kecilOleh : Dhani Armanto.Divisi Kampanye Komunitas Peduli Slamet [KOMPLEET]Dari Realitas Ke Pertanyaan-Pertanyaan Apa yang kita pahami...
>> View More